Info Pesantren
Home / Artikel dan Kajian Islam / Etika Dalam Berperang

Etika Dalam Berperang

Oleh : Wajdi Khalid

ُهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٤٥﴾ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴿٤٦﴾ وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِن دِيَارِهِم بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ ﴿٤٧﴾

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka bertegug hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rosul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan,yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan ilmu Allah yang meliputi apa yang mereka kerjakan”.(Q.S. Al Anfal: 45-47)

Makna Global Ayat

Pembelajaran untuk umat muslimin tentang adab-adab berperang.

Korelasi dengan ayat sebelumnya

Setelah Allah menyebutkan pandangan setiap kelompok ke kelompok yang lain di perang Badr dan ketetapan-ketetapanNya untuk menolong orang-orang mukmin, maka Allah mengajarkan kepada umat muslimin adab-adab (etika) berperang yang akan menyebabkan kemenangan bagi muslimin.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kalian”.  Di dalam Shahihain, terdapat sebuah hadist dari Abdullah bin Abu Aufa, bahwasannya Rasulullah -shalallahu ‘alaih wa sallam-pernah menungu hari-hari di mana beliau akan bertemu dengan musuh. Dan ketika matahari telah condong, beliau berdiri dan berseru pada orang-orang :

يا أيها النَّاسُ، لا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ، واسألوا الله الْعَافِيَةَ، فَإذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِروُا وَاعْلَمُوا أنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلالِ السيوفِ

“Hai manusia, jangan berharap bertemu musuh, dan memintalah kesehatan yang baik kepada Allah , jika kalian menemui mereka (musuh) , maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga berada di bawah naungan pedang”

Tafsir Ayat

Hikmah mengapa Allah memulai ayatnya dengan seruan “keimanan” kepada kaum muslimin adalah untuk membangkitkan semangat mereka dalam berperang.

Firman Allah : “Apabila kalian bertemu dengan sekelompok orang”, yang dimaksud dengan bertemu adalah berperang, dan yang dimaksud dengan sekelompok orang adalah   pasukan musuh, jadi makna firman Allah di atas adalah apabila kalian memerangi sekelompok orang dari kaum musyrikin.

Firman Allah :“Berteguh hatilah” yaitu kokohkanlah pendirian kalian di medan perang dengan penuh keberanian.

Kemudian Allah memerintahkan kaum mukminin untuk berdzikir kepada Allah, karena dzikir atau mengingat Allah menguatkan semangat para mujahidin sehingga akan menghantarkan mereka mendapatkan kemenangan.

Dan firman Allah : “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan” yaitu janganlah kalian berselisih.

Kemudian firman Allah : “Yang menyebabkan kamu menjadi gentar”, gentar di sini yang dimaksud adalah kekalahan.

Kemudian firman Allah: “Dan akan hilang kekuatanmu”, maksudnya akan hilang kekukatanmu dan kemenanganmu.

Kemudian firman Allah: “Sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar”.Dalam ayat ini Allah menjelaskan tujuan dan hikmah dari perintah Allah kepada kaum mukminin untuk bersabar. Allah menjanjikan kepada kaum mukminin yang bersabar akan mendapatkan ma’iyyah dari Allah. Ma’iyyah yang dimaksud di sini adalah pertolongan dan bantuan dari Allah.

Kemudian firman Allah :“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia” hingga akhir ayat, terdapat di dalamnya celaan bagi penduduk Mekkah yang keluar untuk memerangi Rasulullah –shalallahu alaihi wa sallam- dan larangan bagi muslimin untuk mengikuti perbuatan mereka ketika di medan peperangan.

Perumpamaan dalam ayat ini adalah orang-orang Quraiys ketika keluar pada perang badr, di mana mereka keluar dengan membawa para budak, alat-alat musik, dengan tujuan para budak minum khomr dan menari untuk mereka sehingga semua bangsa arab mendengar keberanian mereka.

Dan “Bathor (keangkuhan)” adalah tindakan kelewat batas dalam mensikapi nikmat Allah, yaitu dengan tidak bersyukur terhadap nikmat yang diberikan olehNya atau dengan menjadikan nikmat itu sebagai sarana berbuat maksiat dan kejelekan.

Dan maksud riya’ dalam firman Allah “dengan maksud riya” adalah menginginkan pujian dari manusia dan menampakan perbuatan yang menyelisihi apa yang adalah dalam hatinya.

Padahal orang-orang Quraisy saat itu menampakkan keberanian dan kedermawanan mereka untuk mendapatkan pujian dari manusia, sedangkan pada hakikatnya, mereka adalah para pengecut dan bakhil.

Adapun firman Allah “Dan keadaan mereka benar-benar memiliki rasa angkuh dan ria kepada manusia”, adalah penjelasan bahwa mereka betul-betul mengingingkan pujian saat mereka menampakkan kegiatan-kegiatan mereka.

Adapun maksud firman Allah “mereka menghalangi orang-orang dari jalan Allah“ adalah mereka melarang atau mencegah manusia dari agama islam, mereka menghalangi manusia dari kebaikan, padahal mereka sendiri telah berpaling dan menolak agama islam. Kemudian di akhir ayat , Allah berfirman: “ Dan ilmu Allah meliputi apa yang mereka kerjakan”, maksudnya, tidak akan ada sesuatu apapun yang luput dari pengwasanNya. Allah berfirman:

أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ

“Bahwasanya Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan”

Hukum-hukum dari ayat
·     Wajibnya teguh pendirian ketika bertemu dengan musuh
·     Wajibnya meminta pertolongan hanya kepada Allah –subhanahu wa taa’la-
·     Disunnahkannya berdzikir ( mengingat Allah) ketika dalam kesempitan dan kesusahan.
·     Diharamkannya berselisih diantara muslimin, terlebih khusus saat perang sedang berkecamuik.
·     Perang dilaksanakan hanya untuk menjunjung tinggi kalimat Allah –azza wa jalla-
·     Haramnya bersikap angkuh, ria, dan menghalangi seseorang dari jalan Allah.

(Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari kitab Tafsir Ayatil Ahkam buah pena Abdul Qodir Syeibatul Hamd oleh Wajdi Khalid Barbud alumni Pesantren Islam Al Irsyad angkatan 19 tahun 2010, diedit oleh Agus Abu Aufa, Lc.)

Tinggalkan komentar

Alamat email Antum tidak akan dipublikasikan. Kolom yang harus diisi ditandai dengan *

*

Scroll To Top