Info Pesantren
Home / Artikel dan Kajian Islam / Kemahiran dalam Ber-akhlaq

Kemahiran dalam Ber-akhlaq

Ada 4 hadits yang dapat menolong kita untuk memiliki kemahiran dalam berakhlaq. Dalam menjaga tutur kata, dalam menjaga sikap kita, dalam menjaga emosi kita, dan juga ketika kita harus tulus mencintai atau bergaul dengan seseorang.

1. Kemahiran dalam Bertutur Kata

Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari, Muslim)

Hadits tersebut berbicara tentang anjuran kita untuk memiliki kemahiran dalam bertutur kata. Ketika kita harus berbicara, maka kita harus berpikir sejenak, apakah substansi perkataan yang akan kita sampaikan baik atau tidak, apakah nantinya akan membawa dampak yang baik atau justru sebaliknya.

Kalau ternyata baik, kita pun tidak langsung menyampaikan perkataannya, akan tetapi harus dibungkus dengan untaian kata dan cara yang baik yang baik dan pas pula. Karena perkataan yang baik jika dikatakan secara tidak pas, akan menyakiti perasaan orang yang kita ajak bicara. Karena substansi yang baik, jika disampaikan dengan cara yang tidak baik, maka akan berbuah hal yang tidak baik pula.

Sebaliknya, jika substansi perkataan kita tidak baik, maka sebaiknya kita diam, karena tidak akan mendatangkan manfaat walaupun kita poles dengan untaian kata dan cara yang baik.

2. Kemahiran dalam Bersikap

Ini merupakan kunci kedewasaan seseorang. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah dia meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya.”
(HR At-Tirmidzi)

Berlama-lama dengan permainan-permainan yang mubah, berlama-lama bermain hape untuk hal yang tidak perlu. Perkara-perkara seperti demikian, sebaiknya kita tinggalkan dan kita jauhkan dari kehidupan kita.

3. Kemahiran dalam Mengendalikan Jiwa

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!”
(HR. Bukhari)

Semua dari kita punya emosi (marah, red), karena dengan marah ini lah kita dapat menegakkan al amr bil ma’ruf wan nahi anil munkar, dengan marah ini pula lah kita dapat menegakkan jihad fi sabilillah, begitu pula ketika kita melihat dan mendengar bahwa Islam dilecehkan. Namun tentunya kita harus kendalikan amarah tersebut dengan cara yang baik.

4. Kemahiran dalam Bermuamalah

Ketika kita bermuamalah, bergaul dengan siapapun maka pergaulan kita adalah tulus benar-benar untuk menjalin silaturahmi, dan tulus untuk sama-sama memberikan keuntungan baik dunia maupun akherat, serta tulus dalam rangka merajut ukhuwah islamiyah.

Sehingga ketika kita mencinta, maka kita mencinta karena Allah. Dan ketika kita harus membenci, maka kita membenci karena Allah. Tidak hanya faktor kepentingan dunia semata, akan tetapi juga kepentingan akherat. Dan ini semua tidak akan terwujud kecuali dengan kecintaan kita karena Allah, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang shahih

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian, sampai ia suka sekali berbuat yang baik kepada saudaranya, sebagaimana dia suka diperlakukan baik pula oleh saudaranya.”
(HR. Bukhari, Muslim)

Jika kita suka ketika orang lain berbuat baik kepada kita, maka sebaliknya kita pun harus juga suka berbuat baik kepada orang lain.

Demikian, maka barangsiapa yang memiliki 4 (empat) kemahiran ini dalam hidupnya, maka kehidupannya insya Allah akan nyaman dan tentram, hampir-hampir tidak memiliki musuh, meskipun keridhoan orang-orang bukanlah target yang mampu kita gapai seluruhnya. Namun jika kita lakukan 4 hal ini dengan ikhlas lillahi ta’ala, maka Allah akan selamatkan kita dari hasadnya orang-orang.

Wallahu a’lam bishawab.

Disampaikan oleh ust. Suharlan pada kajian di Masjid As-Sakinah. Senin, 25 April 2016.

Tinggalkan komentar

Alamat email Antum tidak akan dipublikasikan. Kolom yang harus diisi ditandai dengan *

*

Scroll To Top