Info Pesantren
Home / Artikel dan Kajian Islam / Kemuliaan Akhak adalah Amalan yang Paling Berat di dalam Timbangan Seorang Mukmin pada Hari Kiamat

Kemuliaan Akhak adalah Amalan yang Paling Berat di dalam Timbangan Seorang Mukmin pada Hari Kiamat

Oleh : Ummu Anas Sumayyah bintu Muhammad Al Ansyariyyah, penerjemah oleh Ustadz Suharlan Madi Ahya, Lc

Definisi Akhlak

Akhlak secara bahasa berarti: Perangai dan tabiat.

Secara istilah berarti: Tatacara pergaulan seorang hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para manusia lainnya.

Berakhlak Mulia Terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala

Yang dimaksud dengan berakhlak mulia terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah berserah diri hanya kepada-Nya, bersabar, ridho terhadap hukum-Nya baik dalam masalah syariat maupun takdir, dan tidak berkeluh kesah terhadap hukum syariat dan takdir-Nya.

Berakhlak Mulia Terhadap Para Manusia

Yang dimaksud dengan berakhlak mulia terhadap para manusia adalah tidak menyakiti mereka dengan lisan dan anggota badan, tersenyum di hadapan mereka, menahan amarah, sabar terhadap gangguan mereka, rendah hati, jujur, amanah, dan lain sebagainya…

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerintahkan kita untuk bergaul dengan manusia dengan akhlak yang mulia, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.”

Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada! Iringilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya dia akan menghapuskannya! Pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia![1]

Kemuliaan Akhak Adalah Amalan Yang Paling Berat Di Dalam (MIZAN) Timbangan Seorang Mukmin Pada Hari Kiamat

Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tidak pernah berbicara dari hawa nafsunya, yang telah diberikan perkataan-perkataan yang sempurna telah menjelaskan kepada kita, bahwa amalan yang paling berat di dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat adalah Akhlak yang mulia, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ.”

Tidak ada sesuatu apapun yang paling berat di dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat nanti daripada akhlak yang mulia. Sesungguhnya Allah sungguh membenci orang yang berkata kotor lagi jahat.”[2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah memuji rosul-Nya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah berfirman:

((وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ))

((Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.))[3]

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling mulia akhlaknya.[4]

Jika kita ingin mengetahui bagaimana akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Aisyah radhiyallahu ‘anha telah menjawab tentang pertanyaan itu, beliau berkata: “Akhlak beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Al Qur’an.[5]

Sesungguhnya berdakwah kepada kemulian-kemuliaan akhlak merupakan salah satu tujuan terpenting diutusnya Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlak.”[6]

Pertama kali yang kita harus ketahui, bahwa setiap amalan yang dilakukan oleh seorang hamba untuk mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus diiringi dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diberikan petunjuk di dalam melaksanakan amalan tersebut. Karena manusia dengan daya dan kekuatannya tidak akan dapat mengerjakan sesuatu apapun dan tidak akan mendapatkan petunjuk sedikitpun. Karena segala sesuatu terjadi karena daya, kekuatan, dan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan hal itu kepada kita di dalam firman-Nya:

((مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا))

((Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.))[7]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

((وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ))

((Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah Aku bertawakkal dan Hanya kepada-Nya-lah Aku kembali.))[8]

Akan tetapi kita harus perhatikan, siapa yang berhak mendapatkan petunjuk dan siapa yang berhak mendapatkan hidayah?

Bagi orang yang ingin mendapatkannya, dia harus mulai berjalan di atas jalan istiqomah sambil memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia akan mendapatkan petunjuk dan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini telah disebutkan secara jelas dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

((فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى * وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى * وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى))

((Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup[9], serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.))[10]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

((اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ))

((Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).))[11]

Dari ayat-ayat tersebut di atas, jelaslah bahwa seorang hamba yang ingin mendapatkan petunjuk harus mulai berjalan di atas jalan hidayah. Itulah manhaj (prinsip) para rosul yang mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang nabi Musa ‘alaihis salam:

((وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى))

((Dan Aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).))[12]

Hal itu juga telah disebutkan secara jelas di dalam hadits qudsy, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

((يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ.))

Wahai hamba-hamba-Ku, masing-masing kalian adalah sesat kecuali orang yang aku telah berikan pentunjuk kepadanya. Maka, mohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian.”[13]

Oleh karena itu, apabila kita ingin membentuk kemuliakan akhlak, wajib atas kita untuk memulainya dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita memiliki tauladan yang baik dalam pribadi Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang beliau adalah sebaik-baiknya makhluk. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memohon kepada Allah untuk dimuliakan akhlaknya, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

اللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي.

Ya Allah, Engkau telah memuliakan penciptaanku, maka muliakanlah akhlakku.”[14]

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga selalu berdoa:

وَاهْدِنِي ِلأحْسَنِ اْلأَخْلَاقِ لاَ يَهْدِي ِلأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إلاَّ أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ.

Dan berilah aku petunjuk untuk akhlak yang paling mulia (karena) tidak ada yang menunjukkan kepadanya kecuali Engkau. Hindarkanlah aku dari akhlak yang buruk (karena) tidak ada yang bisa menghindarkan aku darinya kecuali Engkau. Aku penuhi panggilan-Mu. Seluruh kebaikan hanya ada pada kedua tangan-Mu. Keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu. Aku (memohon) kepada-Mu. Aku (kembali) kepada-Mu. Engkau Mahaberkah lagi Maha-tinggi.”[15]

 

Jadi, wajib atas kita untuk memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdoa, dan merendahkan diri kepada-Nya agar Allah memberikan petunjuk bagi kita untuk menuju kemuliaan akhlak.

 

Judul Asli Versi Arab:
Ath Thariiq Ilaa Husni Al Khuluq

Judul Indonesia :
Meraih Surga Tertinggi Dengan Akhlak Mulia

Penulis:
Ummu Anas Sumayyah bintu Muhammad Al Ansyariyyah Hafizhahallah

Muraja’ah dan taqdim:
Fadhilah Asy Syeikh Abu Abdillah Musthafa Al ‘Adawi Hafizhahullah

Penerjemah:
Suharlan Madi Ahya, Lc

Penerbit:
Pustaka Darul Ilmi Bogor


Catatan kaki    (↵ kembali ke teks)

  1. Hasan, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmdzi (4/1987) dan dihasankan oleh Syeikh Al Albany dalam kitab Shahiih Al Jaami’ no. 97 dari Abu Dzar radiallahu ‘anhu.
  2. Shahih, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmdzi (4/2002) dan dishahihkan oleh Syeikh Al Albany dalam kitab Shahiih Al Jaami’ no. 5632 dari Abu Darda radiallahu ‘anhu.
  3. Al Qalam : 4.
  4. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori no. 6203. Imam Muslim no. 2150.
  5. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 24080, 24774, 25285.
  6. Hasan, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al Musnad no. 8729 dan Imam Al-Bukhori dalam Al Adab Al Mufrad no. 273.
  7. Al Kahfi : 17.
  8. Huud : 88.
  9. Yang dimaksud dengan merasa dirinya cukup ialah tidak memerlukan lagi pertolongan Allah dan tidak bertakwa kepada-Nya.
  10. Al Lail : 5 – 10.
  11. Asy Syuura : 13.
  12. Thaahaa : 84..
  13. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Imam Muslim no. 2577 dari Abu Dzar radiallahu ‘anhu.
  14. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 23871, 24695 dari Aisyah radiallahu ‘anhu.
  15. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 771 dari Ali bin Abu Thalib radiallahu ‘anhu.

Tinggalkan komentar

Alamat email Antum tidak akan dipublikasikan. Kolom yang harus diisi ditandai dengan *

*

Scroll To Top