Info Pesantren

Ikhlas

Oleh Fikri Lubab alumni PIA ke 19 (2010), diedit oleh Ujang Pramudhiartho, Lc

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas berarti bersih dari kotoran dan merubah sesuatu menjadi bersih dan tidak kotor. Maka, orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan sesembahan yang lain serta tidak riya’ dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan sesembahan yang lain. Memurnikan niat dari segala kotoran yang merusak hati dan jiwa .

Para ulama’ memiliki pendapat yang berbeda- beda tentang makna ikhlas, di antaranya ialah:

1.      Ikhlas ialah mengkhususkan tujuan semua perbuatan hanya kepada Allah semata, bukan kepada yang lain .
2.      Mentauhidkan Allah –subhanahu wa ta’ala– dalam bentuk ketaatan .
3.      Melupakan segala bentuk penglihatan terhadap makhluk dengan cara selalu melihat kepada sang pencipta.

Ikhlas merupakan syarat dikabulkannya suatu amalan sholih selama amalan itu tidak menyalahi apa saja yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad –shalallahu ‘alaihi wa sallam– . Allah –subhanahu wa ta’ala– telah memerintahkan kepada kita semua untuk beribadah kepadanya dengan rasa Ikhlas, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah –subhanahu wa ta’ala-,

وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاء

“Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah , dengan Ikhlas menaatinya semata- mata karena (menjalankan) agama” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ikhlas, merupakan satu kata yang mudah diucapkan, tapi sulit untuk dilaksanakan. Salah satu ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.”.

Niat adalah pengikat amal. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi teramat sangat penting dan akan membuat hidup ini menjadi lebih mudah, indah dan jauh lebih bermakna.

Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya, hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa beramal harus diniatkan hanya untuk Allah?

Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

عَنْ أَمِيْرِ اْلُمْؤمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بنِ اْلخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللِه يَقُُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالِّنيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِِلىَ اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Amiril mukminin Abi Hafsoh Umar bin Khattab –radhiyallahu ‘anhu– dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “ Sesungguhnya segala amal pekerjaan itu [diterima atau tidaknya di sisi Allah] hanyalah tergantung kepada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang telah diniatkannya, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya,maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang berhijrah untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang akan dia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan. (HR. Muttafaq ‘alaih)

Itulah balasan yang diberikan oleh Allah –subhanahu wa ta’ala– kepada siapa saja yang melakukan suatu amalan kebaikan yang diiringi dengan rasa ikhlas kepada Allah, maka Allah akan membalasnya dengan pahala yang sangat menggiurkan. Begitu pula sebaliknya, barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak diiringi dengan rasa ikhlas kepada Allah, maka amalan tersebut tidak akan membuahkan suatu pahala kebaikan, walaupun amalan tersebut adalah amalan-amalan yang diperintahkan oleh Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam– . Karena suatu amalan tidak akan diterima oleh Allah kecuali dengan 2 hal, Ikhlas dan sesuai dengan apa-apa yang telah di ajarkan oleh Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam-.

Ikhlas merupakan pondasi utama seorang mukmin, apabila seseorang tidak ikhlas kepada Allah, ataupun mengharapkan agar seseorang melihatnya ataupun mengharapkan berbagai bentuk pujian yang disanjungkan kepadanya (yang lebih di kenal dengan sebutan riya’), maka amalan tersebut di hadapan Allah tidak ada artinya sedikitpun.

Yang dimaksud dengan riya’ adalah ketika seorang muslim memperlihatkan amalannya kepada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk kenikmatan dunia lainnya. Riya’ merupakan salah satu diantara cabang-cabang kemusrikan, sebagaimana yang di sabdakan oleh Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam– :

أَخْوَفُ ماَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِرْكُ الْلأَصْغَرُ – قَالُوا يَا رَسُوْلَ اللهِ : وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ . قَالَ : الرِّيَاءُ

 “Yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu ?”, beliau menjawab, “yaitu Riya’ “. (HR. Ahmad, At-Thabrani dan Al-Baghawi dalam syarhu sunnah).

Riya’ merupakan suatu penyakit hati yang dapat menyelinap dan memasuki kepada hati siapa pun, entah orang yang berilmu, berkedudukan dan sebagainya. Karena riya’ merupakan bentuk perbuatan yang tidak terlihat wujudnya, karena terletak di dalam hati seseorang. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah agar senantiasa terhindar dari perbuatan Riya’.

Salaf dan ikhlas

1.      Ya’kub pernah berkata, “Seseorang yang ikhlas ialah orang yang menyembunyikan segala bentuk kebaikan yang diamalkannya sebagaimana seseorang menyembunyikan segala bentuk kemaksiatan yang telah diperbuat.
2.      Ayyub pernah berkata : “Mengikhlaskan niat yang dikerjakan oleh seseorang lebih sulit dari pada bentuk amalan yang diniatkannya.
3.      Fudhail bin Iyyad pernah berkata : “Meninggalkan sesuatu amal karena suatu kepentingan manusia adalah bentuk Riya’. Dan mengerjakan sesuatu karena manusia adalah bentuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas adalah ketika kamu di jauhkan oleh Allah dari dua perkara tersebut.”

 

Referensi :
1.      Tazkiyatun Nufus oleh DR. Ahmad Farid
2.      Al Arba’in An Nawawiyah oleh Imam An Nawawi
3.      Kitab Tauhid jilid 3 oleh syeikh Sholeh Al Fauzan

Tinggalkan komentar

Alamat email Antum tidak akan dipublikasikan. Kolom yang harus diisi ditandai dengan *

*

Scroll To Top