Info Pesantren
Home / Artikel dan Kajian Islam / Imunisasi Nabawi – Bagian Ketiga (2/3)

Imunisasi Nabawi – Bagian Ketiga (2/3)

Oleh : Ust. Muhammad Arifin Badri, MA

B.    Menutup bejana dan tempat menyimpan makanan dan minuman.

Bila orang-orang yang ilmu dan jiwanya telah mengkultuskan peradaban barat biasanya beranggapan bahwa masyarakat baratlah kiblat kebersihan dan kesehatan, maka hal itu tidaklah layak dilakukan oleh orang yang dihatinya masih tersisa setitik keimanan. Yang demikian itu, dikarenakan agama kita, jauh-jauh hari sebelum bangsa barat mengenal kebersihan, telah mengajarkan berbagai syari’at yang hingga saat ini belum bisa ditandingi oleh teori atau peradaban apapun.

Diantara tindakan prefentif yang diajarkan Islam guna menjaga kesehatan umat manusia ialah dengan menjaga makanan dan minuman mereka dari berbagai kotoran dan mikro organik yang dapat mengancam kesehatan. Agar makanan dan minuman tetap bersih dan higenis, Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menutupinya, dan tidak membiarkannya terbuka, terkena udara bebas dan berbagai hal lainnya. Tindakan ini adalah langkah awal yang sangat penting dari upaya menjaga kesehatan dan menangkal penyakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(غَطُّوا الْإِنَاءَ، وَأَوْكُوا السِّقَاءَ، وَأَغْلِقُوا الْبَابَ، وأطفؤا السِّرَاجَ، فإن الشَّيْطَانَ لَا يَحُلُّ سِقَاءً، ولا يَفْتَحُ بَابًا، ولا يَكْشِفُ إِنَاءً، فَإِنْ لم يَجِدْ أحدكم إلا أَنْ يَعْرُضَ على إِنَائِهِ عُودًا وَيَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ، فَلْيَفْعَلْ) رواه مسلم.

“Tutuplah bejana, ikatlah geribah (tempat menyimpan air yang terbuat dari kulit-pen), tutuplah pintu, matikanlah lentera (lampu), karena sesungguhnya setan tidaklah mampu mengurai geribah yang terikat, tidak dapat membuka pintu, dan tidak juga dapat menyingkap bejanan (yang tertutup). Bila engkau tidak mendapatkan (tutup) kecuali hanya dengan melintangkan diatas bejananya sebatang ranting, dan menyebut nama Allah, hendaknya ia lakukan.” (riwayat Muslim).

Pada riwayat lain:

(غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فإن في السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فيها وَبَاءٌ، لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍ ليس عليه غِطَاءٌ، أو سِقَاءٍ ليس عليه وِكَاءٌ، إلاَّ نَزَلَ فيه من ذلك الْوَبَاءِ). رواه مسلم

“Tutuplah bejana, dan ikatlah geribah, karena pada setiap tahun ada satu malam (hari) yang padanya turun wabah. Tidaklah wabah itu melalui bejana yang tidak bertutup, atau geribah yang tidak bertali, melainkan wabah itu akan masuk ke dalamnya.”(Riwayat Muslim).

Dari mencermati hadits di atas, dapat dipahami bahwa menutup rapat makanan dan minuman, terlebih-lebih bila disertai dengan bacaan basmalah, dapat menanggulangi dua penyebab utama bagi segala penyakit:

1.      Ulah dan kejahatan setan.

2.      Wabah penyakit yang turun dan menyebar melalui media udara.

Imam An Nawawi berkata: “Para ulama’ menyebutkan beberapa faedah dari perintah menutup bejana dan geribah, diantaranya kedua faedah yang ditegaskan pada hadits-hadits ini, yaitu:

1.      Menjaganya (makanan dan minuman) dari setan, karena setan tidak dapat menyingkap tutup bejana, dan tidak dapat mengurai ikatan geribah.

2.      Menjaganya dari wabah yang turun pada satu malam di setiap tahun.

3.      Faedah ketiga: menjaganya dari terkena najis dan kotoran.

4.      Keempat: menjaganya dari berbagai serangga dan binatang melata, karena bisa saja serangga jatuh ke dalam bejana atau geribah, lalu ia meminumnya, sedangkan ia tidak menyadari keberadaan serangga tersebut, atau ia meminumnya pada malam hari, (sehingga ia tidak melihatnya-pen) akibatnya ia terganggu dengan binatang tersebut.”{{1}}

Imam An Nawawi juga menjelaskan bahwa syari’at menutup bejana dan mengikat geribah ini bukan hanya berlaku pada malam hari, akan tetapi juga berlaku pada siang hari, berdasarkan keumuman teks hadits di atas.

Syari’at ini juga menguatkan paparan saya sebelumnya, bahwa lalai dari berdzikir kepada Allah adalah biang berbagai penyakit, karena dengan menyebut nama Allah ketika menutup makanan dan minuman, berarti makanan dan miuman kita terhindar dari ulah setan dan wabah yang turun.

Hikmah pertama dan kedua yang disebutkan pada hadits di atas, yaitu menjaga makanan dan minuman dari wabah yang turun pada satu hari/malam di setiap tahun, merupakan hikmah yang hingga saat ini tidak diketahui dan ditemukan oleh ilmu kedokteran barat. Dan hikmah ini hanya dapat diketahui melalui wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana hadits ini merupakah isyarat bahwa wabah penyakit, hanya terjadi pada masa-masa tertentu saja, dan tidak terjadi pada sepanjang tahun. Dan ini adalah salah satu fakta yang telah dibuktikan dalam dunia medis. Kita semua mengetahui bahwa berbagai wabah yang ada di masyarakat, kebanyakannya terjadi pasa masa-masa tertentu saja, dimana pada saat itu berbagai virus dan bakteri penyebab penyakit berkembang biak, lalu menyerang masyarakat.

Kedua hikmah ini merupakan secercah rahasia ilmu kedokteran islam yang tidak atau belum kita kembangkan dan sosialisasikan ke masyarakat. Sebagaimana hal ini merupakan salah satu bentuk imunisasi syariat yang belum atau bahkan tidak kita kembangkan dan sosialisasikan kepada umat manusia.

C.     Makan tujuh biji kurma Ajwah.

Diantara tindakan prefentif yang diajarkan Islam untuk mencegah berbagai penyakit sebelum datang ialah dengan mengkonsumsi tujuh biji buah kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah di waktu pagi. Mengkonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah di waktu pagi, dapat mencegah serangan pengaruh sihir dan racun. Yang demikian ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(من تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتِ عَجْوَةٍ، لم يَضُرَّهُ في ذلك الْيَوْمِ سُمٌّ ولا سِحْرٌ) متفق عليه

“Barang siapa yang setiap pagi hari makan tujuh biji buah kurma ajwa, niscaya pada hari itu ia tidak akan terganggu oleh racun atau sihir.” (Muttafaqun ‘alaih).

Pada riwayat lain :

من أَكَلَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِمَّا بين لَابَتَيْهَا حين يُصْبِحُ لم يَضُرَّهُ سُمٌّ حتى يُمْسِيَ. رواه مسلم

“Barang siapa pada pagi hari, makan tujuh biji kurma yang dihasilkan diantara kedua hamparan Madinah, niscaya ia tidak akan terganggu oleh racun hingga sore hari.”(riwayat Muslim).

Dengan jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa manfaat mengkonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah pada pagi hari adalah untuk menangkal pengaruh sihir dan racun. Sehingga manfaat kurma ajwah ini sama halnya dengan manfaat yang diperoleh dari imunisasi.

Berikut saya nukilkan fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah tentang hal ini:

Pertanyaan: Apa hukumnya berobat dengan imunisasi sebelum datangnya penyakit?

Jawaban: Tidak mengapa berobat dengan imunisasi bila kawatir terkena suatu penyakit, disebabkan adanya wabah, atau sebab lainnya yang dikawatirkan menjadi penyebab datangnya penyakit. Sehingga tidak mengapa, anda minum obat guna menangkal penyakit yang dikawatirkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hadits yang shohih:

(من تصبح بسبع تمرات من تمر المدينة لم يضره سحر ولا سم)

“Barang siapa yang pada waktu pagi makan tujuh biji kurma madinah, niscaya ia tidak akan terganggu oleh sihir, tidak oleh racun.” Hadits initermasuk upaya penanggulangan penyakit sebelum terjadi.

Demikian juga halnya orang yang kawatir terhadap serangan suatu penyakit, dan ia diberi imunisasi anti wabah yang sedang menyerang di negri tersebut atau di negri manapun. Upaya itu tidak mengapa, sebagai upaya pertahanan. sebagaimana halnya penyakit yang telah menimpa diobati, demikian juga halnya penyakit yang dikawatirkan akan menyerang, boleh ditanggulangi dengan pengobatan.

Akan tetapi tidak dibenarkan untuk menggantungkan ajimat, penangkal penyakit, atau jin, atau ‘ain, dikarenakan itu semua dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa perbuatan itu termasuk syirik ashghar (kecil), karena itu, hendaknya kita waspada.”{{2}}

D.    Banyak beristighfar.

Bila pada pemaparan di atas telah jelas bahwa kemaksiatan kepada Allah adalah biang datangnya berbagai musibah dan wabah penyakit, maka dapat dipahami bahwa istighfar dan mohon ampunan kepada-Nya adalah penangkal dan penawar berbagai wabah dan penyakit.Bukan hanya menangkal penyakit, akan tetapi istighfar juga akan mendatangkan kedamaian, kebahagian, keberkahan dan kemudahan dalam hidup.

Allah Ta’ala berfirman kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى [ هود 3 ]

Dan hendaknya kamu meminta ampun kepada Tuanmu dan bertaubat kepada-Nya (Jika kamu mengerjakan yang demikian) niscaya Allah akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai pada waktu yang telah ditentukan.” (Huud 3).

Syeikh Muhammad Amin As Syinqithy menafsirkan ayat ini dengan berkata: “Pendapat yang paling kuat tentang maksud kenikmatan yang baik ialah: rizqi yang melimpah, hidup yang lapang, dan keselamatan di dunia, dan yang dimaksud dengan (waktu yang telah ditentukan) adalah kematian.”{{3}}

Allah Ta’ala mengisahkan perihal Nabi Hud ‘alaihissalaambersama kaum ‘Aad. Dikisahkan, kaum ‘Aad adalah satu kaum yang terkenal memiliki kekuatan yang luar biasa.

وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ [فصلت 15]

“Kaum ‘Aad berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.”  (Fusshilat 15)

Walau demikian, andai mereka beriman kepada Allah dan mensucikan jiwa mereka suci dari berbagai noda kemaksiatan dengan beristighfar, niscaya kekuatan mereka menjadi berlipat ganda:

وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ توبوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السمآء عَلَيْكُمْ مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إلى قُوَّتِكُمْ [ هود : 52 ]

“Wahai kaumku, beristighfarlah kamu kepada Tuhanmu, lalu bertaubatlah (Kembalilah) kepada-Nya, niscaya Allah akan menurunkan hujan yang sangat lebat, dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu.”  (Huud 52)

 

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam kitab tafsirnya bahwa Abul Bilaad merasa keheranan tatkala membaca firman Allah Ta’ala :

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ [ الشورى 30 ]

“Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri.” (As Syura 30).

Ia bertanya-tanya, bagaimana penerapan ayat ini pada dirinya, yang telah menderita buta mata sejak ia dilahirkan. Karena rasa herannya inilah ia bertanya kepada Al ‘Ala’ bin Bader: “Bagaimana penafsiran firman Allah Ta’ala:

 وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ [ الشورى 30 ]

“Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri,” padahal aku ditimpa kebutaan sejak aku masih bayi? Maka Al ‘Ala’ menjawab:“Itu adalah akibat dari dosa kedua orang tuamu.”{{4}}  

Inilah imunisasi nabawi sejati yang sepantasnya digalakkan sejak dini, agar kita menjadi bangsa yang perkasa dan berjaya. Dan selanjutnya, generasi penerus kita tidak turut merasakan sebagian dari kesialan berbagai amal kemaksiatan kita.

Renungkan dan pikirkan baik-baik saudaraku! Apakah anda sampai hati untuk mewariskan kesialan amal maksiat anda kepada putra-putri anda?

Saya yakin anda adalah orang tua yang penyayang, sehingga andapun pasti terpanggil untuk menjauhkan warisan sial ini dari putra-putri anda. Tidak heran bila andapun benyak beristighfar, dan berjuang sekuat tenaga untuk mensucikan diri anda dan keluarga anda dari kesialan amal maksiat. Selamat berjuang, semoga Allah Ta’ala memberkahi dan memudahkan perjuangan anda.

Bersambung ke bagian Ketiga (bagian terakhir), InsyaAlloh…

 


[[1]]Syarah Muslim oleh Imam An Nawawi 13/183.[[1]] [[2]]Al Fatawa Al Mut’alliqah Bit Thib Wa Ahkamil Mardho 203.[[2]] [[3]]Adwaul Bayan 3/12.[[3]] [[4]]Tafsir Ibnu Abi Hatim 10/3279 & Tafsir Al Baghowi 7/355.[[4]]

Tinggalkan komentar

Alamat email Antum tidak akan dipublikasikan. Kolom yang harus diisi ditandai dengan *

*

Scroll To Top