Info Pesantren
Home / Artikel dan Kajian Islam / Imunisasi Nabawi – Bagian Ketiga (3/3)

Imunisasi Nabawi – Bagian Ketiga (3/3)

Oleh : Ust. Muhammad Arifin Badri, MA

E.    Memohonkan Perlindungan Untuk Anak-anak.

Diantara metode imunisasi nabawi yang tidak diketahui oleh banyak umat Islam dan sering dilalaikan oleh orang yang telah mengetahuinya ialah dengan memohonkan perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita dari gangguan setan, binatang berbisa dan pengaruh ‘ain keji (mata keji). Padahal metode ini telah diajarkan semenjak zaman Nabi Ibrahin ‘alaihissalam, dan diamalkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنِ ابن عَبَّاسٍ أن رَسُولَ اللَّهِصلى الله عليه وسلم كان يُعَوِّذُ حَسَناً وَحُسَيْناً يقول (أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ من كل شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كل عَيْنٍ لاَمَّةٍ) وكان يقول: (كان إِبْرَاهِيمُ أبي يُعَوِّذُ بِهِمَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ). رواه أحمد وأبو داود والنسائي وصححه الألباني.

“Dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan perlindungan untuk cucunya Hasan dan Husain dengan berdoa: “Aku memohonkan perlindungan untukmu berdua dengan Kalimat-kalimat Allah yang Maha Sempurna dari setiap setan, binatang berbisa yang mematikan, dan dari setiap (pengaruh) mata yang mendatang kerusakan.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, An Nasai dan dishohihkan oleh Al Albani.

Ini adalah salah satu imunisasi nabawi yang masih belum banyak diketahuioleh umat Islam, dan sering dilalaikan oleh orang yang telah mengetahuinya. Sungguh demi Allah, bila imunisasi nabawi ini kita amalkan dengan penuh keimanan dan penghayatan, niscaya anak-anak kita terlindung dari berbagai penyakit dan wabah.

Wahai saudaraku seiman dan seakidah! Cobalah anda bertanya kepada hati nurani sendiri: Percayakah anda dengan imunisasi nabawi ini?

Amalkanlah wahai saudaraku, niscaya Allah akan melindungi anak-anak anda dari berbagai petaka dan musibah.

F.      Tidak berlebih-lebihan Dalam Hal Makanan dan Minuman.

Diantara syari’at Islam yang sejak dahulu kala terbukti manjur untuk menjaga kesehatan dan mencegah datangnya berbagai penyakit ialah menempuh hidup sederhana. Tidak berlebih-lebihan dalam hal makan dan minum.

الْمِقْدَامَ بن معدي كرب الكندي قال سمعت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول ما مَلأَ بن آدَمَ وِعَاءً شَرًّا من بَطْنٍ حَسْبُ بن آدَمَ أُكُلاَتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فان كان لاَ مَحَالَةَ فَثُلُثُ طَعَامٍ وَثُلُثُ شَرَابٍ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ رواه أحمد والترمذي وصححه الألباني

“Sahabat Al Miqdan bin Ma’dykareb Al Kindi mengisahkan: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seorang anak Adam memenuhi suatu kantung yang lebih buruk dibanding perutnya. Bila tidak ada pilihan, maka cukuplah baginya sepertiga dari perutnya untuk makanan, sepertiga lainnya untuk minuman dan sepertiga lainnya untuk nafasnya.” Riwayat Ahmad, At Tirmizy, An Nasai dan oleh Al Albani dinyatakan sebagai hadits shahih.

Ibnul Qayyim berkata : “Ketahuilah bahwa makan itu ada tiga tingkatan:
1.      Kebutuhan.
2.      Kecukupan.
3.      Kelebihan.

Pada hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa hendaknya anda mencukupkan diri dengan beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggung anda. Dengan demikian anda tidak menjadi loyo dan tidak pula lemas. Bila anda masih merasa perlu untuk makan lebih banyak, maka hendaknya anda makan sepertiga dari daya tampung perut anda. Dengan demikian anda menyisakan sepertiga dari ruang perut anda untuk air minum dan sepertiga lainnya untuk nafas anda. Pembagian ini sangat berguna bagi kesehatan badan dan jiwa anda. Karena bila perut anda dipenuhi oleh makanan, maka tidak tersisa lagi ruang untuk minuman. Sehingga bila anda minum, maka pernapasan andapun menjadi sesak. Bila demikian adanya, anda menjadi mudah lelah dan sesak napas, bagaikan orang yang memikul beban terlalu berat. Ditambah lagi perut kenyang memiliki pengaruh buruk terhadap kepribadaian dan jiwa anda. Anda menjadi malas beribadah, dan dorongan birahi anda menguat. Pendek kata, perut yang senantiasa penuh itu berakibat buruk bagi kesehatan raga dan jiwa.”[1]

Al Munawi juga menjelaskan hadits ini dengan berkata : “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap perut orang yang makan hingga penuh sebagai kantong yang paling buruk, karena ia telah menggunakan perutnya tidak pada tempatnya. Perut manusia diciptakan untuk menegakkan tulang punggung karena mendapatkan asupan gizi yang cukup dari makanan yang ia makan. Sedangkan bila ia memenuhi perutnya, maka hal ini berdampak merusak agama dan dunianya. Penjelasannya sebagai berikut: Tidaklah seseorang biasa memenuhi perutnya, kecuali bila ia telah dikuasai oleh sifat keserakahan dan ambisi dunia. Dan kedua perangai ini berakibat buruk bagi pelakunya. Rasa kenyang yang berkepanjangan, menjerumuskan palakunya ke dalam kesesatan dan menjadikannya merasa malas. Akibatnya ia selalu malas untuk beribadah, dan tubuhnya dipenuhi oleh timbunan zat-zat yang tidak ia butuhkan. Bila telah demikian, ia menjadi mudah marah, dikuasai syahwat birahi, dan ambisinya menjadi meluap, sehingga iapun terobsesi untuk menumpuk harta benda yang tidak ia perlukan.” [2]

Saudaraku! Diantara ketentuan syari’at Islam dalam urusan makan dan minum adalah hendaknya anda tidak berlebih-lebihan dalam keduanya. Segala yang anda suka, anda makan atau minum, segala yang bisa anda beli maka anda konsumsi, dan segala yang ditawarkan oleh pedagang, maka anda incipi. Sudah barang tentu sikap seperti ini adalah cerminan nyata dari ambisi makan dan minum yang berlebihan atau disebut dengan isrof.

عَنْ عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله تعالى عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : كُلُوا، وَاشْرَبُوا، وَتَصَدَّقُوا، وَالْبَسُوا، غَيْرَ مَخِيلَةٍ، وَلاَ سَرَفٍ. رواه أحمد والنسائي وغيره وحسنه الألباني.

Sahabat Abdullah bin Amer bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Makan, minum, bersedekah dan berpakaianlah asal engkau tidak bersikap angkuh dan berlebih-lebihan. Riwayat Ahmad, An Nasai dan oleh Al Albani dinyatakan sebagai hadits hasan.

Pada suatu hari, sahabat Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Janganlah engkau makan hingga merasa kekenyangan, karena kekenyangan menjadikanmu malas mendirikan sholat, dan menyebabkan badanmu ditimpa penyakit. Hendaknya kalian bersikap sewajarnya dalam urusan makan, dengan demikian kalian terjauhkan dari kesombongan, badan kalian menjadi lebih sehat, dan engkau lebih giat beribadah. Tidaklah seseorang itu menjadi binasa, hingga ia lebih mendahulukan syahwat birahinya dibanding ajaran agamanya.”

Sebagian ulama’ berkata:

إنْ كُنْتَ بَطِنًا فَعُدَّ نَفْسَك زَمِنًا حتَّى تَخْمِصَ

“Bila engkau memiliki perut yang gendut, maka anggaplah bahwa dirimu sedang menderita penyakit menahun, hingga perutmu kembali mengecil.”  [3]

Ibnul Qayyim berkata: “Zat makanan yang tertimbun dalam tubuh menyebabkan banyak petaka, diantaranya : mendorong anggota tubuh untuk berbuat maksiat, dan merasa malas dari beribadah. Kedua hal ini cukup sebagai dampak negatif yang besar bagi anda. Betapa banyak kemaksiatan yang disebabkan oleh rasa kenyang, dan betapa banyak amal ketaatan yang terhalangi oleh rasa kenyang? Karenanya, orang yang terlindung dari efek buruk perutnya, berarti ia telah terlindung dari petaka yang besar. Ditambah lagi, setan semakin leluasa menguasai diri anda, tatkala anda mengisi perut anda dengan makanan hingga penuh. Tidak heran, bila ulama’ terdahulu berpetuah:”Sempitkanlah jalur setan dengan berpuasa.” Dan nabi juga bersabda:

ما مَلأَ بن آدَمَ وِعَاءً شَرًّا من بَطْنٍ

“Tidaklah seorang anak Adam memenuhi suatu kantung yang lebih buruk dibanding perutnya”. Andailah perut penuh dengan makanan itu tidak berdampak selain menjadikan anda lalai walau hanya sesat, niscaya setan akan bersemangat menyeru anda untuk melakukannya, agar berkesempatan menggiring anda kemanapun ia suka. Karena bila perut anda senantiasa kenyang, maka jiwa anda akan agresif, dan syahwat birahi andapun berkobar. Sedangkan bila perut anda terbiasa lapar, niscaya jiwa anda menjadi tenang, khusyu’ dan tunduk kepada anda.” [4]

Pada kesempatan lain, beliau berkata : “Berbagai penyakit fisik terjadi akibat dari zat makanan yang tertimbun dalam badan anda. Akibatnya timbunan makanan itu mengganggu gerak berbagai organ badan anda. Inilah kebanyakan penyakit yang diderita oleh masyarakat. Semua itu terjadi karena mereka terbiasa mengkonsumsi makanan padahal makanan yang ia konsumsi sebelumnya belum sempenuhnya dicerna oleh organ pencernaannya. Keadaan ini diperparah oleh :

1-     Mereka mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang melebihi kebutuhan badannya.

2-     Mereka banyak mengkonsumsi makanan yang sulit dicerna.

3-     Mereka mengkonsumsi beraneka ragam jenis makanan yang terbuat dari bahan-bahan yang beraneka ragam pula.

Bila anda memenuhi perut anda dengan berbagai jenis makanan ini, dan itu telah menjadi gaya hidup anda, niscaya kebiasaan buruk ini menyebabkan anda menderita beraneka ragam penyakit pula. Dari berbagai penyakit yang anda derita, ada yang dengan cepat disembuhkan dan ada pula yang sulit diobati. Akan tetapi bila anda menempuh hidup sederhana, mengkonsumsi makanan seperlunya, dan makanan yang anda konsumsipun seimbang dalam kadar dan jenisnya, maka badan anda lebih sehat dari pada mengkonsumsi makanan dalm jumlah banyak.” [5]  

Tidak mengherankan bila diantara metode yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak makan sambil duduk bersila. Karena makan dengan duduk bersila menjadikan anda hanyut dan tidak kunjung merasa puas atau kenyang.

Ketika anda duduk bersila, maka lambung anda akan terbuka selebar-lebarnya, anda tidak segera merasa kenyang, dan akhirnya andapun makan dengan lahap serta dalam jumlah yang banyak.

عن أَبي جُحَيْفَةَ رضي الله تعالى عنه يقول قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : (لا آكُلُ مُتَّكِئًا) رواه البخاري.

Sahabat Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tidak makan sambil duduk bersandar (bersila).”  Riwayat Imam Bukhari.

Imam Al Khattabi menjelaskan hadits ini dengan berkata: Masyarakat awam mengira bahwa yang dimaksud duduk bersandar ialah makan sambil duduk bersandar ke sebelah bagian badan. Padahal tidak demikian halnya. Yang dimaksud adalah duduk mantap dengan bersila. Dengan demikian makna hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa ia tidak makan dengan duduk bertumpu pada alas yang dibawahnya, layaknya orang yang hendak makan banyak. Karena sesungguhnya aku makan hanya sekedar untuk bekal hidup, sehingga aku duduk layaknya orang yang ingin segera bangkit.” [6]

Ibnu Jarir At Thobari berkata: “Bila anda bertanya: Apakah ada batasan tertentu berkaitan dengan nafkah yang dibenarkan dalam Syari’at? Maka jawabannya: Ya, ada batasan nafkah yang sesaui dan dibenarkan dalam masing-masing hal berikut: makanan, minuman, pakaian, sedekah, amal kebajikan dan lainnya . Saya tidak suka memperpanjang kitab ini dengan menyebutkan batasan masing-masing. Hanya saja berdasarkan penjelasan di atas, yaitu: bila anda mengkonsumsi makanan melebihi batas kebutuhan anda, sehingga badan anda menjadi lemah, tenaga anda luluh, anda tersibukkan dari beribadah kepada Allah dan menunaikan kewajiban, maka itu berati anda telah berlebih-lebihan.”  [7]

Beberapa syari’at di atas, hanyalah setetes dari lautan syariat yang bila anda amalkan dengan penuh keimanan dapat mendatangkan keberkahan dalam hidup anda. Bukan hanya dalam hal kesehatan raga anda, akan tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan anda, baik di dunia ataupun di akhirat.  Wallahu Ta’ala a’alam.

 


Catatan kaki    (↵ kembali ke teks)

  1. Zadul Ma’ad Oleh Ibnul Qayyim 4/16
  2. Faidhul Qadir, oleh Al Munawi 5/502.
  3. Jami’ Al Ulum Wa Al Hikam oleh Ibnu Rajab Al Hambali 426.
  4. Bada’iul Fawaid oleh Ibnul Qayyim 2/498.
  5. Zadul Ma’ad Oleh Ibnul Qayyim 4/16
  6. Demikian Ibnu Hajar Al Asqalani menukilkan perkataan Al Khatthabi. Fathul Bari 9/541.
  7. Tafsir At Thobari 19/300-301.

Tinggalkan komentar

Alamat email Antum tidak akan dipublikasikan. Kolom yang harus diisi ditandai dengan *

*

Scroll To Top