Info Pesantren
Home / Artikel dan Kajian Islam / Jalan Menuju Kemuliaan Akhlak

Jalan Menuju Kemuliaan Akhlak

Oleh : Ummu Anas Sumayyah bintu Muhammad Al Ansyariyyah, penerjemah oleh Ustadz Suharlan Madi Ahya, Lc

Sebelum kami memulai tulisan ini, kami ingin menjelaskan beberapa perkara penting yang wajib untuk diperhatikan oleh setiap muslim dan muslimah, yaitu:

Hendaknya kita semua berhati-hati agar jangan sampai ilmu yang kita miliki hanya sekedar menjadi sekedar pengetahuan saja namun kosong dari keikhlasan dan ittiba’, atau ilmu yang kita miliki hanya untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama, atau untuk mendebat orang-orang bodoh.

Dengan demikian, kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari perkara tersebut, sebagaimana Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berlindung darinya. Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا.”

Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak pernah khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak pernah dikabulkan.”{{1}}

Kita juga berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari ilmu yang hanya ditujukan untuk meraih kemewahan duniawi yang cepat sirna, dengan demikian ilmu tersebut menjadi penyebab gugurnya pahala amalan kita, bahkan menjadi petaka, bencana, dan siksa di akhirat kelak –na’uudzu billah min dzaalik-, sebagaimana yang telah Allah Subhanahu wa ta’ala kabarkan dalam firman-Nya:

((مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ))

((Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.{{2}})){{3}}

Oleh karena itu, seluruh amal perbuatan wajib ikhlas hanya untuk mendapatkan wajah Allah Subhanahu wa ta’ala, agar orang yang mengamalkannya mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana yang telah disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

((قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ))

((Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan Aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)“.)){{4}}

Adapun jika suatu amal perbuatan tidak diiringi dengan keikhlasan, maka amal perbuatan itu gugur dan batal. Orang yang mengamalkannya tidak akan mendapatkan pahala pada hari kiamat kelak, karena pada hakikatnya dia telah mengamalkannya untuk mendapatkan dunia, maka dia hanya akan mendapatkan ganjarannya di dunia saja. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

((مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلاَّ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ))

((Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.)){{5}}

Allah Subhanahu wa ta’ala juga berbicara tentang amal perbuatan yang tidak ikhlas, Allah berfirman:

((وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا))

((Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan{{6}}, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.)){{7}}

Oleh karena itu, keinginan untuk menuntut ilmu wajib didampingi dengan keikhlasan hanya untuk Allah Subhanahu wa ta’ala dan tekat yang kuat untuk beramal dan berittibaa’ kepada Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Betapa indahnya berdakwah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala bila diiringi dengan mempraktekkan akhlak yang mulia dalam setiap perkara, baik yang kecil maupun yang besar. Demikianlah dakwah para sahabat Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, dengan mempraktekkan akhlak yang mulia. Dakwah mereka didasari dengan amal perbuatan, sehingga seorang sahabat dengan perkataannya, perbuatannya, dan akhlaknya merupakan praktek dakwah yang berhasil. Begitulah dakwah yang dilakukan oleh generasi terbaik generasi para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dengan demikian dakwah mereka merupakan salah satu sebab masuknya manusia ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.

Jadi, kamu dengan akhlakmu, ucapanmu, tingkah lakumu, dan kemuliaan akhlakmu terhadap orang lain merupakan praktek dakwah yang berhasil. Maka, teruslah berusaha untuk menjadikan amal perbuatanmu sesuai dengan ilmu yang kamu miliki. Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengabarkan kita dengan firman-Nya:

((وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ))

((Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?“)){{8}}

Di dalam ayat yang mulia ini ada anjuran untuk berdakwah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan ucapan yang baik dan diiringi dengan praktek amalan, yaitu amal perbuatan yang shaleh, kemudian wajib untuk menisbatkan dirinya kepada kaum muslimin karena Islam adalah landasan yang karenanya seorang muslim saling mencinta dan saling memusuhi. Dia tidak boleh berfanatik terhadap jama’ah, golongan, atau partai tertentu. Hendaknya penisbatan dirinya dan walanya hanya untuk Islam, baik secara perkataan maupun perbuatan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

((إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ))

((Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu“.)){{9}}

Jadi, perkataan wajib diiringi setelahnya dengan istiqomah (keteguhan) di dalam mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala. Hindarilah pengakuan-pengakuan, omong kosong-omong kosong, dan slogan-slogan yang tidak ada bukti amal perbuatan!

Sungguh, kita dapatkan banyak orang, bahkan disayangkan sebagian para da’i, mereka tidak mengamalkan atau mempraktekkan hal-hal yang mereka katakan. Kita bisa dapatkan adanya kekerasan, kekakuan, perangai yang kasar dari sebagian mereka. Lalu, bagaimana selanjutnya sikap manusia terhadap para da’i seperti mereka?!! Tidak diragukan lagi, manusia akan meninggalkan dan membenci ilmu yang mereka miliki, bahkan mereka akan mengatakan: “Kami masih lebih baik daripada mereka.” selanjutnya, manusia akan berpaling dari mereka. Itu semua terjadi karena mereka menuntut ilmu lalu mengajarkannya akan tetapi tidak mengamalkannya, sehingga ilmu yang mereka miliki akan menjadi hujjah atas mereka. Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengancam kita dalam firman-Nya:

((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لاَ تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لاَ تَفْعَلُونَ))

((Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.)){{10}}

Bukan hanya itu saja, bahkan yang sangat disayangkan, terkadang kita dapatkan dari sebagian orang-orang yang dianggap oleh manusia sebagai juru dakwah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tidak bisa bergaul dengan baik sesama mereka sendiri, sehingga kita dapatkan perselisihan, permusuhan, rasa benci, dan hasad terjadi di antara mereka. Kita dapatkan sebagian mereka menghina dan menggunjing sebagian yang lain, bahkan masing-masing dari mereka menunggu-nunggu kesalahan-kesalahan orang lain, baik di dalam amalan maupun perkataan. Terkadang sebagian mereka berprasangka buruk terhadap sebagian lainnya, sehingga mereka tidak saling menerima nasehat, karena masing-masing melihat bahwa dialah satu-satunya sang Penasehat.

Sungguh, mereka tidak pernah merenungi firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

((وَالْعَصْرِ * إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلاَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ))

((Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.)){{11}}

Karena seseorang tidak selamanya menjadi da’i (yang berdakwah), akan tetapi terkadang dia menjadi da’i dan terkadang menjadi mad’u (yang didakwahi). Dengan demikian, orang yang tidak mau menerima dakwah dan nasehat dari orang lain masuk di dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

((وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِاْلإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ))

((Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.)){{12}}

Banyak dari para penasehat yang nasehatnya tidak terucap melainkan dengan cara kekerasan, kesombongan, dan kecongkakan. Mereka tidak sama sekali memperhatikan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

((فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ))

((Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu{{13}}. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.)){{14}}

Oleh karena itu, kita bisa dapatkan masyarakat islam sekarang telah dikuasai oleh perpecahan dan perselisihan. Itu semua terjadi disebabkan karena jauhnya pengamalan terhadap agama Allah Subhanahu wa ta’ala. Banyak dari manusia yang berilmu tapi mereka tidak mau mengamalkannya, siapakah kita bila dibandingkan dengan generasi para sahabat radhiyallahu ‘anhum?!! Kasih sayang, kelembutan, rasa cinta telah menguasai kehidupan mereka, karena mereka berpegang-teguh dengan agama dan manhaj Allah Subhanahu wa ta’ala. Dengan demikian Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan mereka kemampuan untuk menguasai bumi selama bertahun-tahun dan terwujudlah janji Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya:

((وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ))

((Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.)){{15}}

Lalu, apakah mungkin Allah Subhanahu wa ta’ala akan memberikan kemampuan bagi umat ini untuk berkuasa, padahal perselisihan, permusuhan, dan iri dengki telah menguasai kehidupan mereka?! Dan apakah dakwah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala akan berhasil?! Tidak ragu lagi, dakwah akan menjadi fenomena yang menakutkan yang tidak akan membuahkan hasil sedikitpun.

Mari kita hentikan berlomba-lomba akan kemewahan dunia, karena perselisihan-perselisihan dan permusuhan-permusuhan itu tidaklah terjadi melainkan disebabkan karena berlomba-lomba akan kemewahan dunia, seperti gila akan kekuasaan, gila kepemimpinan, gila nama baik, dan gila ketenaran!! Hendaknya kita rubah akhlak kita dan kita mulai dari sekarang!!

Kita jadikan perlombaan kita untuk meraih kebaikan dan meraih surga yang luasnya adalah seluas langit dan bumi, guna mengamalkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

((إِنَّ اْلأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ * عَلَى اْلأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ * تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ * يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ * خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ))

((Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (syurga). Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya). Laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.)){{16}} dan firman-Nya yang lain:

((وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّموَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ))

((Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.)){{17}}

Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selalu mengkhawatirkan umatnya bila mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan dunia, beliau bersabda:

إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ وَإِنَّ عَرْضَهُ كَمَا بَيْنَ أَيْلَةَ إِلَى الْجُحْفَةِ إِنِّي لَسْتُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِي وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوا فِيهَا وَتَقْتَتِلُوا فَتَهْلِكُوا كَمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ.”

Sesungguhnya aku adalah orang yang mendahului kalian menuju Haudh (telaga Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam di mahsyar). Sesungguhnya luas haudh seperti jarak antara Ailah sampai Juhfah. Sesungguhnya aku tidak khawatir atas kalian bahwa kalian akan berbuat kesyirikan setelah sepeninggalanku, akan tetapi yang aku khawatirkan atas kalian adalah bahwa kalian akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dunia sampai kalian saling membunuh lalu kalian binasa sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian binasa.”{{18}}

Ya Allah, ajarkanlah kami ilmu yang kami tidak ketahui dan jadikanlah ilmu itu sebagai hujjah bagi kami dan bukan sebagai penghujat atas kami.

 

Judul Asli Versi Arab:
Ath Thariiq Ilaa Husni Al Khuluq

Judul Indonesia :
Meraih Surga Tertinggi Dengan Akhlak Mulia 

Penulis:
Ummu Anas Sumayyah bintu Muhammad Al Ansyariyyah Hafizhahallah

Muraja’ah dan taqdim:
Fadhilah Asy Syeikh Abu Abdillah Musthafa Al ‘Adawi Hafizhahullah

Penerjemah:
Suharlan Madi Ahya, Lc

Penerbit:
Pustaka Darul Ilmi Bogor


 

[[1]]Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 2722.[[1]] [[2]]Maksudnya: apa yang mereka usahakan di dunia itu tidak ada pahalanya di akhirat.[[2]] [[3]]Huud : 15 – 16.[[3]] [[4]]Al An’aam: 162 – 163.[[4]] [[5]]Al Qashash : 84.[[5]] [[6]]Yang dimaksud dengan amal mereka disini ialah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia amal-amal itu tak dibalasi oleh Allah Karena mereka tidak beriman.[[6]] [[7]]Al Furqaan : 23.[[7]] [[8]]Fushshilat : 33.[[8]] [[9]]Fushshilat : 30.[[9]] [[10]]Ash Shaff : 2 – 3.[[10]] [[11]]Al ‘Ashr : 1 – 3.[[11]] [[12]]Al Baqoroh : 206.[[12]] [[13]]Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.[[13]] [[14]]Ali Imraan : 159.[[14]] [[15]]An-Nuur : 55.[[15]] [[16]]Al Muthaffifiin : 22 – 26.[[16]] [[17]]Ali Imraan : 133.[[17]] [[18]]Shahih, diriwayatkan oleh Imam Imam Muslim no. 2296, dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu.[[18]]

Tinggalkan komentar

Alamat email Antum tidak akan dipublikasikan. Kolom yang harus diisi ditandai dengan *

*

Scroll To Top