Info Pesantren
Home / Artikel dan Kajian Islam / Untaian Hikmah dalam Siroh Nabawiyyah

Untaian Hikmah dalam Siroh Nabawiyyah

Oleh : Risyad Rois

Selama ini siroh Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- hanya terkesan sebagai sekumpulan kisah dan cerita tentang perjalanan hidup Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yang setelah diketahui dibiarkan begitu saja.

Namun bila diperhatikan, Siroh Nabi Muhammad -shallallhu ‘alaihi wa sallam-mempunyai peranan penting dalam perjalanan hidup manusia.

Siroh Nabawiyyah sebagai perantara untuk memperkuat iman.

Sesungguhnya, salah satu faktor yang memperkuat iman adalah mempelajari Siroh Nabawiyyah. Bagaimana tidak?! Saat mempelajari keagungan beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, terpancar dari lembaran-lembaran kehidupannya, betapa beliau adalah manusia terbaik yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dan hal itu seharusnya lebih dari cukup untuk meyakinkan manusia manapun yang pernah mempelajarinya, bahwasanya seorang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak akan mungkin berdusta dalam menyampaikan amanah Islam yang diembankan Allah –Subhaanahu wa ta’ala- kepada beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Oleh karena itu, imam Ibnul Qoyyim –rahimahullah- menyimpulkan pentingnya mempelajari Siroh Nabawiyyah bagi orang-orang yang sangat mengharapkan keselamatan dan kebahagiaan dalam dirinya, dan semua orang yang ingin membenahi diri.

Siroh Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagai panduan hidup

لقد كان لكم في رســـــــول الله أســـــــوة حســـــنة لمــــــــن كان يرجـــــو الله واليــــــوم الآخــــــر

“Sungguh dalam diri Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- terdapat pedoman yang baik bagi orang-orang yang mengharapkan ridha Allah dan mengharapkan kebaikan akhirat” (QS Al-Ahzaab: 21)

Siroh Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mencakup segala aspek kehidupan. Siroh Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menceritakan sesosok manusia yang terkenal dengan kejujurannya saat beliau masih muda dan menceritakan kehidupan seorang pebisnis yang sukses sebelum diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul.

Tak bisa dipungkiri, bahwa beliau –shalallahu ‘alaihi wa sallam– adalah seorang sosok pemimpin yang ideal, pemimpin yang tangguh dan dicintai rakyatnya, pemimpin yang sukses dalam mengatur Negara dan mempersatukan masyarakat dalam satu wadah islam.

Tidak hanya pada urusan dunia, beliau adalah seorang sosok pemimpin spiritual yang berhasil menuntun pengikut beliau menjadi manusia yang benar-benar mengesakan Allah –Subhaanahu wa Ta’aala- dan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Merubah bangsa yang saat itu berlabelkan jahiliyyah, penyembah berhala yang hidup tanpa aturan beragama, yang penuh perpecahan dan peperangan antar suku, menjadi sebuah bangsa yang teratur dan bersatu, bangsa yang menjalankan perintah beragama dengan penuh kesadaran dari dalam diri mereka, dan menjadikan ilmu sebagai dasar seluruh perbuatan mereka. Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah contoh terbaik, dan perjalanan dakwah beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah motivasi yang hebat bagi para da’i, yang harus mereka pelajari agar tidak pernah putus semangat mereka dalam berdakwah di jalan Allah.

Oleh karena itu, sangat tidak berlebihan jika ada seseorang yang mengatakan bahwa “Siroh Nabawiyyah adalah panduan hidup yang terbaik.” Berdasarkan pada salah satu ayat pada Al-Qur’an, Allah berfirman :

وإِنــــك لعلـــــــــــــى خلــــق عـظيـــــــــــــــــــم

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung” (QS Al-Qolam: 4)

Dengan ini, jelaslah bahwa tuntunan hidup yang ideal adalah lembaran kehidupan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Namun, saat ada seseorang yang mempelajari siroh nabawiyyah dan berusaha menerapkannya pada zaman ini demi mempersatukan dan memperbaiki moral ummat, sebagian orang merasa phobi dan menyatakan bahwa cara seperti itu akan manghasilkan manusia primitif.

Saatnya kita merenungkan, “Benarkah menjadikan siroh nabawiyyah sebagai tuntunan hidup hanya menghasilkan manusia primitif ?

Mungkin akan lebih jelas dengan pernyataan “Apakah dengan mempelajari dan menerapkan islam yang ada pada zaman Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- justru mempersempit gerak umat islam, sehingga bukannya kemajuan dan persatuan yang didapat, tapi justru keterpurukan dan kemunduran?!”

Inilah saat yang tepat untuk mempelajari sejarah kehidupan Nabi yang mulia ini, dan mulai menyadari betapa manusia saat ini mengalami kemunduran dan keterpurukan, dan menyadari bahwa saat ini kita hidup pada zaman yang dipenuhi gaya hidup primitif, seperti yang terjadi pada zaman jahiliyyah.

Perlu diketahui, ilmuwan barat pun banyak yang mengakui keagungan lembaran-lembaran hidup Nabi yang mulia ini, mereka mempelajarinya dan mengakuinya. Bahkan ada pula yang mengambil pelajaran dari lembaran-lembaran kehidupan beliau, dan menerapkannya dalam kehidupan dunia mereka. Kemudian, dimanakah kaum muslimin yang seharusnya lebih bisa, bahkan berkewajiban untuk menerapkannya?!

Seharusnya hal ini dijadikan bahan renungan bersama, bukan hanya untuk sekedar direnungkan saja, perlu tindak lanjut dari kaum muslimin untuk mengembalikan reputasi islam, menghidupkan persatuan, kesatuan, dan kemajuan islam yang pernah tercapai dengan mempelajari siroh nabawi dan menerapkannya dalam kehidupan dunia yang cukup singkat ini. (Risyad Rois)

Referensi: Min Asbabi Ziyadatil Iman wa Nuqshonihi oleh syeikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al Badr dan Sirah An Nabawiyah oleh Mushthofa Syiba’i

Tinggalkan komentar

Alamat email Antum tidak akan dipublikasikan. Kolom yang harus diisi ditandai dengan *

*

Scroll To Top